Assalamu`alaikum akang teteh, adik adek dan sohib2 sekalian, pada ikutan yuk…^^
Bazaar Islamic Expo @Danau Kampus Telkom, 3-5 Mei 2012,
Temukan buku, pakaian, dan pernak-pernik islami
Dengan konsep transaksi Zaman Rasulullah
Menggunakan Dinar & Dirham :)
Tabligh Akbar bersama Aa Gym \(^,^)/
dengan tema: “Semangat Qur`an Inspirasi Muda”
5 Mei @Lap. Parkir IM Telkom 12-15 wib -selesai
dan Cerdas cermat, Musabaqah Fahmil Qur`an :)
Diikuti Madrasah Aliyah se-Bandung raya.
5 Mei 2012 @ Im Telkom.
Semoga Allah meridhoi acara2 ini. aamiin
Agar tidak Ada Lagi Penyesalan …
Setiap orang memiliki berbagai peran dalam hidupnya. Sesederhana apapun orang itu. Setiap orang tidak mungkin memiliki hanya satu peran. Peran sebagai anak, ibu, ayah, anggota masyarakat, ,mahasiswa, organisasi, terlebih lagi, peran sebagai hamba-Nya.
Siapapun pastinya pula mengharap yang terbaik pada setiap perannya. Sayangnya, kita memiliki banyak keterbatasan, baik terbatas waktu, tenaga, finansial dan sebagainya.
Tidak jarang kita temui, orang-orang yang sukses dalam satu peran, namun gagal di peran yang lain. Misalnya saja, ia seorang Pimpinan Perusahaan yang hebat, namun rumah tangganya berantakan. Atau, dia seorang aktivis yang cerdas, namun jarang masuk kuliah, dan nilainya mengkhawatirkan.
Nah, bagaimanakah kita menempatkan peran-peran kita dengan sebaik-baiknya?
Luangkanlah waktu untuk bermesrahan dengan Tuhan
Sahabat, Tuhan punya 1001 cara untuk mendatangkan rezeki dan melapangkan hati bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Saat kita lelah dan penat dengan berbagai kesibukan, cobalah untuk meluangkan waktu, mungkin sekitar 10-15 menit, untuk sekadar curhat ke Yang Maha Mendengar. Jika ingin lebih intensif lagi, ada waktu yang disediakan khusus untuk hanba-Nya yang ingin berserah diri, yaitu di sepertiga malam terakhir, sekitar jam 2 malam sampai menjelang subuh. Tentu saja, Tuhan tak akan tega membiarkan hamba-Nya tenggelam dalam kegalauan sesaat. Karna sesungguhnya Dialah sebaik-baik pelindung, dan sebaik-sebaik penolong.
Pandailah membuat skala prioritas
Misalnya saja, ketika kita berada di perkuliahan, maka optimalkan peran kita sebagai mahasiswa yang baik. Namun, saat kita berada di rumah, maka berperanlah sebagai anggota keluarga yang baik, yang menghormati orang tua, menyayangi saudara kandung.
Berilah waktu untuk orang-orang yang Anda cintai
Sebelum kita menyesal, maka berilah perhatian pada orang-orang yang kita cintai. Jangan kalahkan kepentingan mereka dengan target-target kesuksesan yang kita buat. Karena, sesungguhnya energi cinta dari mereka lah yang tetap membuat kita tetap semangat untuk meraih sukses itu sendiri.
Jangan pernah lupa memanjakan diri!
Sesibuk apapun kita, sesekali memanjakan diri sendiri tidak ada salahnya. Memforsir diri terlalu berlebih akan mengantarkan kita pada stress bahkan depresi. Luangkan waktu untuk diri sendiri. Dengarkan musik, berolahraga, pergi ke salon, membaca buku, lakukan apa yang Anda senangi dan positif akan merilekskan diri Anda!
Buatlah perencanaan dengan realistis
Setiap kita pastinya menginginkan sukses dengan segera. Namun, berusahalah untuk tetap realistis. Jika Anda memiliki 10 prioritas pencapaian pada satu hari, maka jika terpenuhi 3 teratas saja itu sudah cukup baik.
Penghargaan pada diri sendiri
Apapun yang sudah Anda pilih dalam hidup Anda, maka itulah yang terbaik. Anda tidak perlu menyesali, meski itu kegagalan. Justru, kita bisa belajar banyak dari kegagalan, dan tahu cara melakukan segalanya dengan lebih baik.
Okay, saatnya kembali mengevaluasi bagaimana Anda telah berperan selama ini. Apakah ada peran tertentu yang Anda telantarkan? Adakah orang-orang yang seharusnya Anda beri perhatian, namun luput karena tersibukkan oleh satu fokus saja?
Apapun itu, masih ada waktu untuk mengubah segalanya agar lebih baik. Tentu saja hanya dengan satu alasan, agar tidak lagi ada penyesalan…
Bandung, 23 April 2012
“Hendaklah kalian mengingat Tuhan kalian, dan shalatlah kalian di awal waktu. Sesungguhnya Allah melipatgandakan pahala kalian”
(HR. Al-Thabrani)
Shalat adalah “komunikasi langsung” dengan sang Khaliq. Langsung karena tidak boleh “diwakilkan” oleh orang lain. Atau, tidak boleh digantikan oleh amalan apapun, karena ia sarana percakapan hamba dengan penciptanya.
Sungguh indah kehidupan seorang Muslim dengan Tuhannya. Setiap hari, lima kali ia menghadap kepada-Nya. Belum lagi shalat-shalat tambahan (nawafil), seperti Dhuha, Witir, Tahajjud, Hajat, dsb. Saat itulah sang hamba memuji Tuhannya, mensucikan, memohon pertolongan, meminta rahmat, hidayah dan ampunan kepada-Nya.
Shalat, menurut Rasulullah saw “bak” sungai yang mengalir di depan pintu rumah seorang Muslim. Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Bagaimana pendapat kalian seandainya di depan pintu seorang dari kalian terdapat sebuah sungai. Setiap hari ia mandi lima kali di dalamnya. Apakah masih ada kotoran yang melekat di tubuhnya?” Mereka menjawab: “Tidak ada!” Rasulullah berkata: “Itulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus semua kesalahan” (Muttafaq `Alaih).
Dari Jabir ra, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang melimpah, yang mengalir di depan pintu rumah seorang dari kalian. Ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali” (HR. Muslim).
Subhanallah! Begitu pemurahnya Allah kepada kita. Dosa-dosa kita dihapus hanya dengan shalat lima waktu. Kesalahan kita berguguran di sungai “penghapus dosa”. Tidak ada kenikmatan, selain kenikmatan bermunajat kepada Allah lewat shalat. Shalat dijadikan oleh Rasulullah saw sebagai “permata hati” (qurah `ain). Dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Rasulullah berkata kepada Bilal: “Ya Bilal! Aqim al-shalah wa arihna biha (Hai Bilal! Dirikanlah shalat dan rehatkan kami dengannya). Bahkan akhir dari wasiat beliau adalah: “shalat” (HR. Ibnu Majah).
Pertanyaannya adalah: shalat yang bagaimanakah yang berfungsi sebagai “sungai penghapus dosa” itu?
Pertama, shalat yang senantiasa dilakukan di awal waktunya. Shalat inilah yang dicintai oleh Allah swt. Hal ini dijelaskan oleh Nabi saw dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Mas`ud ra: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw: “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah? Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya!” Aku bertanya lagi: “Lalu apa? Berbakti kepada kedua orangtua”, jawab beliau. Lalu aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi? Beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah” (Muttafaq `Alaih).
Kedua, shalat yang khusyu`. Maka, marilah kita berusaha untuk khusyu`. Shalat yang khusyu` adalah shalat seorang Mukmin yang benar-benar mendapat “kesuksesan” dari Allah. Karena khusyu` dalam shalat adalah dambaan setiap Muslim yang mengerjakan shalat (mushalli). Meskpun khusyu` itu boleh dikatakan tidak merata alias relatif. Namun, berusaha untuk khusyu` dalam shalat adalah usaha yang sangat baik. Allah swt berfirman: “Telah beruntunglah orang-orang yang berikan. (Yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya” (Qs. Al-Mu’minun: 1-2).
Tentunya untuk khusyu` ada kiat-kiat khusus di dalamnya. Diantaranya adalah dengan cara “memperbaiki cara berwudhu”. Wudhu yang tidak sempurnya, akan menimbulkan rasa was-was dalam hati. Wudhu yang asal jadi hanya menyia-nyiakan air. Itulah mubadzir, dan mubadzir adalah perbuatan syaitan. “Tidak seorang Muslim pun yang berwudhu, kemudian ia memperbagus wudhu’nya, lalu ia mendirikan shalat dua rakaat. Dengan dua rakaat itu ia benar-benar menghadapkan hatinya dan wajahnya, melainkan ia wajib memperoleh surga” (HR. Muslim). Rasulullah saw bersabda: “Seburuk-buruk manusia adalah yang mencuri shalatnya”. Mereka bertanya: “Bagaimana seseorang mencuri shalatnya?” Beliu menjawab: “Ruku dan sujudnya tidak sempurna” (HR. Ahmad). Inilah mungkin model shalat “patok ayam”.
Selain itu, shalat yang khusyu` adalah “media” untuk menggapai ampunan Allah swt. Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang berwudhu dan memperbagus wudhu’nya. Kemudian ia shalat sebanyak dua rakaat atau empat rakaat, baik itu shalat wajib (maktubah) atau selainnya (shalat sunnah), dimana ia ruku dan sujud dengan baik kemudian meminta ampun kepada Allah, niscaya Allah mengampunkannya” (HR. Al-Thabrani).
Ketiga, shalat yang dilakukan dengan ikhlas. Amal adalah “jasad”, dan ruhnya adalah “ikhlas”. Shalat yang dilakukan dengan niat agar dilihat orang sebagai orang yang rajin shalat adalah shalat yang hanya menghabiskan energi. Dalam setiap ibadah, Allah senantiasa menganjurkan kita untuk “ikhlas” dan mengharap ridha dari-Nya. Shalat yang hanya sekedar “menggugurkan” kewajiban adalah shalat yang tidak banyak memberikan bekas dalam kehidupan. Allah menjelaskan: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama… ” (Qs. Al-Bayyinah: 5).
Insya Allah, shalat yang demikian adalah shalat yang diibaratkan oleh Rasulullah sebagai “sungai”: sungai penghapus dosa, yang menghanyutkan kesalahan kita. Semoga shalat yang kita lakukan selama ini menjadi shalat yang benar-benar diterima oleh Allah swt, sehingga dosa-dosa dan kesalahan kita “layak” untuk dihapus dan dihanyutkan. Wallahu a`lamu bi al-shawab. (Cairo, 7 April 2005).
3 alasan fundamental investasi dinar:
1. Dinar adalah uang yang digunakan oleh Rasulullah SAW tidak hanya untuk jual beli, tetapi juga untuk penerapan syariah itu sendiri.
2. Dinar memiliki nilai yang stabil, terbukti di saat zaman rasulullah 1 dinar bisa membeli 1 kambing, begitu juga dengan saat ini.
3. mau tahu alasan-alasan lainnya? sok atuh, hadiri seminar pemberdayaan GAMUS, “MAHASISWA & DINAR, WHY NOT??”: 24 Maret 2012: ruang 3a/b kampus IMT gerlong
Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu pula tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam Al-Quran, Allah swt pun menyuruh kita untuk tidur. Namun, ternyata ada dua waktu tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk tidak dilakukan. yaitu :
1. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh
Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
”Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu Majah 2/752, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih).
Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata :
“Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalih – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).
2. Tidur Sebelum Shalat Isya’
Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647).
Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At-Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits-hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja.”
Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat.”
Sumber: miftahur.com
Salah satu aspek yang menarik untuk dikaji dalam ajaran Islam adalah penekanannya terhadap kaitan antara keimanan dengan keberuntungan secara meyakinkan. Firman Allah ta’ala:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman” (QS.al-Mu’minun:1)
Kaitan antara kedua variable ini ternyata dapat memperlihatkan system ajaran yang sangat paradigmatik, sehingga apabila dikaji secara mendalam, terlihat betapa Islam memang merupakan ajaran yang membawa kepada kemajuan dan menjadi rahmat bagi setiap hamba-Nya.
Allah SWT dalam surat al-Mu’minun ayat 1 sampai 11 mengedepankan lima prasyarat bagi diperolehnya keberuntungan oleh seorang yang beriman, yaitu :
1. Melakukan shalat dengan khusyuk, (QS.al-Mu’minun:2)
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُون
2. Menjauhkan diri dari hal yang tidak berguna, (QS.al-Mu’minun:3)
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
3. Menunaikan zakat, (QS.al-Mu’minun:4)
وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ
4.Menjaga memelihara kemaluannya, (QS.al-Mu’minun:5)
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ
5.Menjaga dan menunaikan amanah dan janjinya, (QS.al-Mu’minun:8)
وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
Akan tetapi kelima hal yang dikemukakan tersebut mempunyai implikasi yang amat jauh bagi terciptanya pemberdayaan sumber daya manusia yang potensial untuk mencapai kesuksesan tidak hanya di dunia tetapi juga menembus hingga di akhirat.
“Apa yang terjadi pada Anda tidak penting. Yang penting adalah apa yang Anda lakukan terhadap apa yang terjadi pada Anda.” (DR. Robert Schuler)
Hidup adalah proses panjang melelahkan yang penuh coba dan goda, seperti dunia yang bagaikan penjara bagi mereka yang bertaqwa. Karena bagi pencari keridhaan Yang Esa, kalaupun dia hartawan atau hanya sabar dan syukurlah perhiasan yang dia punya. Tidaklah semua itu berharga, melainkan hanya cicipan ala kadarnya dari surga yang kenikmatannya abadi tiada tara.
Dalam The Way To Win karya Solikhin Abu Izzuddin dikisahkan, pada suatu hari sebagai qadhi-semacam hakim agung tingkat nasional- ia berkendara keledai yang bagus (Mitshubishi kuda kalau sekarang). Pakaiannya bagus, performanya meyakinkan. Saat melintas di sebuah pasar tiba-tiba seorang Yahudi pedagang minyak menghadang. Memegang tali keledai sang Imam seraya berkata, “Ya Syaikhul Islam, Anda menyatakan bahwa Nabimu bersabda, ‘dunia itu penjara orang beriman dan surganya orang kafir’. Dengan penampilan Anda yang seperti ini, Anda dipenjara seperti apa? Dan dengan keadaan saya yang seperti ini, saya berada di surga seperti apa?”
Ibnu Hajar menjawab, “Dengan kondisi seperti ini, saya dibanding dengan nikmat yang Allah janjikan di akhirat, seolah dalam penjara. Engkau dengan kondisi seperti itu, dibandingkan dengan siksa yang Allah ancamkan di akhirat nanti, sekarang berada di dalam surga.”
Luar biasa! Mendengar jawaban tersebut, Yahudi spontan masuk Islam. Sehebat apapun orang mukmin di dunia, ia masih berada dalam “penjara keterbatasan”. Segembel apapun orang kafir, mereka masih di surga, sebab masih ada neraka menyala menanti mereka.
Inilah ketetapan Allah Azza wa Jalla, bahwa sebenarnya bagi orang-orang beriman telah tersedia surga yang kekal selamanya. Asalkan mau berusaha, bersabar lalu berdoa memasrahkan segala daya yang telah terupaya pada-Nya Yang Kuasa. Maka tidaklah pantas mengeluhkan kehendak-Nya yang terjadi pada kita, karena sebenarnya;
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (TQS. Al-Hadid: 22)
Manusia memang diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, tapi itu bagi mereka yang tak mau berfikir. Bahwa jika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sebenarnya dia sedang diberikan kesempatan untuk bisa ditempatkan-Nya pada posisi yang lebih baik dari sebelumnya.
Namun jika kita mengeluh, sama saja telah menyangsikan kekuasaan Allah. Karena secara tidak langsung hal itu menandakan buruknya persangkaan kita pada Allah, sementara Allah mengikuti persangkaan hamba-Nya. Padahal;
“Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barang siapa yang bersabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barang siapa marah (tidak sabar) maka kemarahan itu akan kembali padanya.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, Ibnu Muflih berkata, “Isnad hadits ini baik”)
Maka sebenarnya bila kita mampu mengurangi kebiasaan mengeluh atau tidak mengeluh sama sekali dan berusaha berbaik sangka pada-Nya, hal itu akan menjadi penyumbang bagi kebaikan kehendak-Nya pada kita.
Oleh karena itu, marilah kita membiasakan diri untuk tidak mengeluhkan masalah (Apa yang terjadi pada Anda tidak penting). Tapi mari kita berfikir cerdas dan berusaha ikhlas mencari solusi secara tuntas (Yang penting adalah apa yang Anda lakukan terhadap apa yang terjadi pada Anda)
_Media Information Center Skuad_
Untukku…
Untukmu…dan untuk kita semua…
Wahai kalian yang menamakan diri kalian sebagai “pejuang dakwah”…
Wahai kalian yang merindukan kejayaan Islam bangkit (kembali)…
Wahai kalian yang memiliki totalitas dan loyalitas tinggi didalamnya…Salam agungku untuk para pemangku langit,bahwa…
“Pergi ke danau membeli durian
Beli durian ke ibu yuyuk
Daripada galau bengong di kosan
ke Ta`lim Biru Pelangi yuk..”
Assalamu`alaikum Sahabat…
Ngomongin Cinta.. memang begitu Indah yah…
Apalagi terhadap “special someone..”
nah.. ni momennya sahabat..
Bareng Kang Setia Furqon Kholid dan Ina Agustina (istri)
yuk gali makna cinta sesungguhnya… :)
Dari ke-3 Nilai tersebut kami juga telah menetapkan Ketua Pelaksana nya. Mereka adalah :
1. Nilai Keilmuan ——-> Salman Mardi Putra
2. Nilai Dakwah ——-> Lalumuhammad Ahsanzi
3. Nilai Enterpreneur ——-> Iksan Suganda
Selain itu kami juga telah menetapkan Sekretaris, Bendahara, serta Kepala Divisi nya. mereka adalah :
1. Sekretaris : Fhyra Maghfirah dan Siti Aisyah
2. Bendahara : Feni Wahyuni dan Nikki Listianing R
3. Kadiv Acara : M. Amirrudin
4. Kadiv Logistik : Ali Sodikin
5. Kadiv Transportasi : Faisal
6. Kadiv Konsumsi : Lely Fachrul
7. Kadiv Bisnis : Yanuar Tri Sulistyo
8. Kadiv Dekorasi : Tri Lestari
9. Kadiv Pubdok : Iqbal Fathony Ramadhan
Dan terakhir kami juga telah menetapkan SC untuk masing2 divisi yang terdiri dari angkatan 2009,. Check this out :) :
1. Ketua pelaksana dakwah : Nanda Iqbal Ibrahim
2. Ketua pelaksana keilmuan : Roland Pranando
3. Ketua pelaksana entrepreneur : Zulfahmi Ilman Hindami
…
4. Sekretaris : Ade Komala Sari , Yeula Haryda
5. Bendahara : Aniez Mohamad , Heni R. Hidayat
6. Divisi Acara : Pridhanis Permata Rachman , Vani Triani S
7. Divisi Pubdok : Muhammad Halim , Rendy Candra
8. Divisi Logistik : Rahmat Khafidhin , Khalid Ansharullah He
9. Divisi Transportasi : Slank Harus Shalat , Rial Ariando Munthe
10. Divisi Konsumsi : Annisa Martina Syahrir , Ayu Wulan Sari
11. Divisi Bisnis (Danus) : Atik Ayu Wardani, Ragil ‘hemu’ Aji Santosa , Hafis Mulyansyah
12. Divisi Dekorasi : Yovita Ekasari Muchtar, Muhammad Shofiu Zamani
Okee.,untuk sementara hanya itu info2 yang bisa kami sampaikan.,
Penasaran dengan konsep yang akan kami bikin???
Tunggu saja info selanjutnya ya sahabat.. :)
oia, kami selaku pengurus juga mau ngucapin Selamat kepada para Ketua, Sekretaris, Bendahara, serta para Kadiv yang telah terpilih.. :D
dan buat para SC jangan pernah bosan ya untuk mengontrol dan membimbing rekan2 panitia agar acara kita dapat berjalan dengan Sempurna nantinya.. Amin..